Jumat, 08 Oktober 2010

ISOLASI GARDU INDUK

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Gardu induk merupakan suatu sistem Instalasi listrik yang terdiri dari beberapa perlengkapan peralatan listrik dan menjadi penghubung listrik dari jaringan transmisi ke jaringan distribusi perimer.
Diantara peralatan-peralatan tersebut diantara telah kita kenal seperti transformator, penggubah fasa, arrester dll. Maka dalam makalah ini kami berusaha untuk mengenalkan peralatan-peralatan listrik yang berada dalam suatu gardu induk (GI )
Didalm pembangunan dan pengoprasian G.I berbagai kendala akan kita dapati seperti ganguan-ganguan dari proses alam seperti petir dan pencemaran lingkungan. Untuk itu didalam G.I diperlukan isolasi dan peralatan-peralatan lainnya untuk mengatasi ganguan-ganguan yang dapat merusak peralatan pada G.I dan saluran transmisinya.
Di makalah ini kita akan mencoba untuk menerangkan alat-alta pengaman pada G.I tersebut diantaranya pengaman berupa isolasi, petanahan, arrester dan sela udara yang semuanya dapat berkoordinasi satu sama lain untuk memutus ganguan yang datang pada G.I maupun saluran transmisi sehingga tidak membahayakan atau merusak peralatn dari G.I tersebut.

1.2 Permasalahan
Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas, dapat dirumuskan permasalahannya sebagai berikut:
a. Apasaja yang menyebabkan ganguan pada G.I dan saluran transmisinya !
b. Apa fungsi dari isolasi dan alat pengaman lainnya yang berada di G.I dan saluran transmisi !
c. Bagai mana mengatasi ganguan yang datang pada G.I !

1.3 Tujuan
Makalah ini bertujuan untuk mengetahui ganguan-ganguan yang terjadi pada G.I dan saluran transmisi. Bagai mana fungsi isolasi dan alat pengaman lainnya mengatasi ganguan tersebut.

1.4 Manfaat
Makalah ini diharapkan dapat bermanfaat secara teoritis dan peraktis. Secara teoritas, makalah ini diharapkan dapat membantu pembaca dalam memahami apa saja ganguan pada G.I dan bagai mana isolasi dan pengaman lainnya dapat mengatasinya.
Secara praktis, pemaparan dalam makalah ini diharapkan dapat memberikan kontribusi yang berguna bagi pembaca mengenai isolasi dan pengaman pada G.I tersebut.


BAB II
PEMBAHASAN
sambaran petir pada jaringan distribusi, baik sambaran langsung maupun sambaran tidak langsung dapat menyebabkan kerusakan pada jaringan distribusi, khususnya peralatan gardu. Pada dasarnya sambaran petir menyebabkan kenaikan tegangan pada jaringan sehingga timbul tegangan lebih berbentuk gelombang impuls yang merambat ke ujung-ujung jaringan, tegangan lebih akibat sambaran petir ini atau sering disebut surja petir dapat merusak isolasi pada peralatan gardu. Maka dari itu untuk mengetahui karakteristik petir akan dibahas mekanisme dari petir itu sendiri dan bagaimana cara pengamanannya, serta yang mempengaruhi dari besarnya kemungkinan sambaran petir terjadi seperti jenis tiang yang digunakan, hari guruh, dan tinggi penghantar dari permukaan tanah. Selain itu juga akan dibahas alat pelindung sistem tenaga listrik yang saat ini banyak digunakan seperti sela batang, kawat tanah dan arrester, serta mengetahui jenis-jenis arrester, karakteristik dari arrester, penempatan arrester, dan spesifikasi dari arrester yang biasa digunakan pada sistem jaringan distribusi

2.1 Kelasifikasi dan Besarnya Tegangan Abnormal
Meskipun tidak ada standar tertentu dari tegangan abnormal yang harus diperhitungkan dalam merencanakan G.I secara umum dapat diiktisarkan adanya gelombang petir, tegangan frekuensi rendah dan surja hubung.
2.1.1 Gelombang Sambaran Petir
Sambaran langsung yang mengenai ril dan peralatan gardu induk paling hebat diantaranya gelombang berjalan lainnya yang dating ke G.I yang menyebabkan tegangan lebih (overvoltage) sangat tinggi yang tidak mungkin dapat ditahan oleh isolasi yang ada. Mencegah hal ini adalah memperkuat perlindungan terhadap petir dengan kawat tanah (ground were) di atas G.I dan saluran transmisi di dekatnya
Sambaran induksi dapat terjadi bila awan petir (thunder cloud) di atas peralatan yang berisolasi. Tegangan induksi itu berubah-ubah tergantung dari keadaan, kebanyakan besarnya antara 100 – 200 kV, maka gelombang (wave front) lebih dari 10 μs. Karena itu sambungan induksi tidak begitu berbahaya bagi peralatan tegangan tinggi, meskipun ia merupakan ancaman bagi peralatan distribusi.
Sambaran dekat (nearby stroke) adalah gelombang berjalan yang dating ke G.I dari sambaran petir pada saluran transmisi pada titik yang jaraknya hannya beberapa kilometer dari G.I, harga puncak gelombang mencapai 120 sampai 130 % dari BIL dari peralatan G.I dan kecuraman muka gelombang mencapai 500 kV/ μs. Namun, karena ril G.I tegangan tinggi yang besar kapasitansi statiknya mencapai beberapa ribu atau puluhan ribu pF, maka kecuraman muka gelombang sering mengalami penurunan yang lumayan juga.
Jika perisaian (shielding) dari G.I dan saluran trasmisi cukup baik gelombang tegangan yang mungkin dating ke G.I atu adalah dari sambaran petir yang jauh yang berasal dari sambaran langsung pada saluran, dari sambaran induksi, dari sambaran dari lompatan baik (back flashover) dari tiang atau dari tengah gawang (span). Gelombang ini berjalan sepanjang saluran dengan kecepatan cahaya (300m/ μs) . selama merambat itu harga puncak dan kecuramannya mengalami penurunan yang cukup banyak oleh adanya peredaman (attenuation) dan distori karena korona peredaman oleh effek kulit (skin effek) pada penghantar. Makin pendek ekor gelombang, makin terasa peredaman itu ; ia berubah dengan cara yang rumit tergantung dari polaritas (lebih besar untuk polaritas positif), harga puncak, besarnya penghantar, adanya kawat tanah di atasnya, bentuk gelombang dan sebagainya. Oleh foust dan Menger dijabarkan rumus empiris berikut
e = e0/ (1+Ke0X)
dimana : e = harga puncak (kV) setelah merambat X km
e0 = tegangan surja asal (kV)
K = factor atenuasi (km-1 kV-1)
= 0,0001 untuk gelombang 20 μs
= 0,0002 gelombanh 5 μs
= 0,004 untuk gelombang terpotong (chopped)
Kecuraman gelombang berjalan dari sambaran petir yang jauh dianggap kira-kira 200 – 300 kV / μs.

2.1.2 Tegangan Abnormal dengan Frekuensi Rendah
Tegangan abnormal dengan frekuensi rendah ini bermacam-macam :
a. tegangan akibat effek Ferranti
b. tegangan yang terjadi akibat beban lepas (load rejection)
c. penguatan sendiri dari generator
d. kenaikan tegangan dari fasa yang sehat pada waktu ada gangguan 1-fasa ke tanah pada sistim
e. tegangan abnormal karena lepas sinkron
f. tegangan obnormal pada waktu hilang gangguan 1-fasa ketanah pada sistim dengan pembumian Petersen atau pada system dengan pembumian Petersen yang mempunyai saluran transmisi pada 1 tiang bersama-sama dengan system yang lain yang mengalami gangguan 1-fasa ke tanah
g. tegangan abnormal yang disebabkan oleh osilasi harmonis dari rangkaian yang terganggu atau karena kejenuhan inti transformator dan sebagainya.
Tegangan abnormal terjadi pada system tenaga listrik diperkirakan tidak sebesar surja petir dan surja hubung, sehingga perencanaan isolasi peralatan kebanyakan didasarkan pada kedua surja ini. Tegangan abnormal frekuewnsi rendah berlangsung lebih dari beberapah puluh milidetik, karena perkiraan nilai tegangan abnormal itu merupakan dasar utama dalam penentuan tegangan dasar (rated voltage) dari arrester. Tegangan dasar itu dipilih berdasarkan tegangan dari fasa yang sehat pada saat ada gangguan 1-fasa ke tanah, ditanbah dengan factor pengaman (margin) tewrtentu.

2.1.3 Surja Hubung
Mekanisme pokok dari terjadinya surja hubung adalah sebagai berikut :
a. peristiwa pukulan kembali (restriking phenomena) di dalam penurunan arus kapasitif dari saluran transmisi tanpa beban atau kapasitor tenaga
b. peristiwa terpotongnya arus pembangkitan pada transformator tenaga.
c. Penutupqn kembali dengan cepat (high-speed reclosing)
d. Penutupan atau gangguan
e. Penutupan yang tidak serentak pada saklar pemutus tenaga 3-fasa
Besarnya surja hubung ini, menurut haasil pengujian di lapangan dan analisa teoritis, sangat berubah dengan keadaan rangkaian dari sistemnya, cara pengetanahan titik netralnya, kemampuan pemutus bebannya dan sebagainya, besar surja ini dinyatakan oleh persamaan berikut :

Kft = √3/ 2 Emax/ E

Dimana Kft = factor tegangan lebih fasa ke tanah
Emax = tegangan maksimum sesudah operasi hubung (switching)
E = tegangan system fasa k`e fasa sebelum operasi huybung (swiching)
Faktyor ini sering juga diberinama per unit (p.u) surja hubung. Vriasi nilai factor ini dalam praktek cukup besar antara 1,2 sampai 4,0 p.u. biasanya harga yang dihitung dari alat pengenalan gejala peralatan (Transien Network Analyzer (TNA)) lebih tinggi dari harga pengujian sebenarnya dilapangan. Hal ini disebabkan karena representase pada TNA terlalu pessimistis. Hal ini perlu diperhitungkan dalam perencanaan isolasi peralatan.
Tegangan lebih lebih surja hubung lebih rendah dari daya isolasi tersebut. karena itu tegangan lebih harus dikurangi bila tegangan system dinaikan. Untuk tegangan system maksimum 145, 145, 365, dan 765 kV tegangan lebih yang diperbolehkan adalah 4,5 ; 3,6 ; 3,0 dan 2,1 p.u. Faktor tegangan lebih yang bisa dipakai dalam perencanaan isolasi saluran tarnsmisi adalah 2,8 p.u

2.2 koordinasi isaolasi
tegangan lebih yang berasal dari dalam system jaringan mencapai beberapa kali tegangan system itu ke tanah, maka tidak ekonomis jika seluruh system itu diisolasikn terhadap tegangan setinggi itu. Untuk gelombang tegangan dari sambaran petir, tegangan itu tinggi sekali, sehingga hamper tidak mungkin mengisolasikan peralatan sistim terhadap tegangan tersebut, karena tidak mungkin mengisolasikan peralatan sistim terhadap tegangan tersebut. untuk pengamanan terhadap sambaran petir, dipakai kawat tanah dan tahanan tanah yang serendah mungkin. Selain itu, dipakai alat pengaman yang cocok (arrester) untuk gelombang yang merambat ke G.I
Ketika kita berusaha untuk memperkuat isolasi pada saluran maka akan terjadi penurunan kekuatan isolasi pada G.I, begitu sebaliknya, oleh sebab itu kita harus seimbang dan tapat dalam memasaang isolasi tersebut.

2.2.1 Banyaknya hari guruh
Dalam pembuatan G.I kita harus memperhatikan frekuensi terjadinya guruh dalam suatu tempat. Indonesia merupakan salah satu tempat dimana guruh sering terjadi. Maka dari itu sebelum membangun G.I dan salurannya kita harus menghitung rata-rata guruh setiap tahunnya untuk setiap tempat (IKL = isokeraunic level) untuk petunjuk frekuensi ganguan petir yang dikeluarkan oleh BMKG.
Maka ditempat-tempat yang memiliki guruh yang banyak membutuhkan bahan isolasi yang cukup untuk menahan jumlah guruh yang ada di daerah tersebut, baik untuk G.I maupun untuk saluran transmisinya. Arrester merupakan salah satu alat yang dapat menangulanggi gangguan yang terjadi akibat sambaran guruh.

2.2.2 Usaha Penanggulangan terhadap Sambaran Petir Langsung
Ganguan yang terjadi akibat sambaran petir langsung sangat lah berbahaya, walau sambaran ini sering terjadi, tetapi apabila terjadi maka pengaman arrester tidak mungkin dapat menahannya. Oleh sebab itu G.I dan saluran transmisi didekat G.I harus diberi perlindungan dengan mengadakan perlindungan yang cukup dengan kawat-tanah dan tahanan pengetanahan yang rendah.

2.2.3 Usaha Penangulangan Terhadap Gelombang Petir yang Datang dari Saluran
Penangulangan terhadap gelombang petir di G.I yang berasal dari saluran teransmisi yang berupa tegangan lebih dapat mengunakan arrester dan isolasi yang kuat terhadap tegangan implus, yang lebih kuat dari tingkatan pengaman arrester.
Pedoman-pedoman pemasanggan isolasi :
a. peralatan yang sama tegangan kerjanya dalam G.I harus mempunyai harga BIL yang sama. Tetapi melalui peruses atau percobaan terlebih dahulu karena peralatan yang berada di luar dapat dipengaruhi pemotongan udara dan keadaan tanah, meskipun harga BIL-nya sama
b. peralatan yang terletak di luar daerah arrester, misalnya Trafo tegangan yang dihubungkan dari sisi luar pemisah (disconnect switch) dari saluran transmisi dan kapasitas pengait (coupling capacitor) untuk telkomunikasi, harus mempunyai isolasi 120% BIL. Hal ini dilakukan karena peralatan terpisah dari arrester dan tetap tehubung pada saluran pada waktu pemisahan terbuka.

2.2.4 Jarak antara Arrester dan Alat yang Dilindungi
Pabila peralatan dan arrester terlalu jauh maka tegangan abnormal yang sampai pada terminal dari peralatan akan lebih tinggi dari pada tegangan perlepasan arrester. Hubungan antara tegangan terminal dari alat yang dilindungi dan jarak dari arrester, dengan memisalkan hannya ada satu saluran (paling kawat) dan gelombang yang dating berbentuk segitiga, adalah sebagai berikut :
et = ea + 2μx/v
dimana : et = tegangan terminal dari peralatan yang dilindungi (kV)
ea = tegangan peralatan dari arrester (kV)
μ = kecuraman muka gelombang dari gelombang yang dating (kV/μs)
v = kecepatan rambat gelombang yang dating (m)
x = jarak dari arrester kea lat yang dilindungi (m)
olehkarena itu jarak x harus sekecil mungkin supaya et tidak melebihi kekuatan isolasi alat. Sebagai contoh, untuk system 154 kV, jika dimisalkan μ = 300 kV/μs, et = BIL = 750 kV dan ea = 630 kV, maka x = 60 m. jika untuk gelombang petir yang dating dari jauh, x = 50 m adalah cukup, namun tidak demikian halnya dengan gelombang petir yang dekat menyambarnya, meskipun pada umumnya dipakai 500 kV/μs, tetapi kecuraman sampai 1000 kV/μs juga terjadi dalam keadaan istimawa menurut rekomendasi IEC (1958). Oleh karena itu x = 50 m atau lebih jauh lagi, dapat dianggap cukup aman meski dengan petir yang dekat sekali pun.

2.2.5 Peniadaan Arrester
Saluran transmisi yang banyak jumlahnya yang terhubung pada G.I selalu mempunyai efek menurunkan harga puncak dari gelombang implusyang dating dari saluran alat, setelah pantulan dan perambatan sekitar ril. Jika gelombang implus persegi dengan harga puncak E dan dari saluran mencapai ril yang tersambung pada N saluran maka harga puncak pad aril akan berkurang menjadi 2E/n. pada G.I yang demikian arrester dapat ditiadakan dan sebagai gantinya dipakai sela udara (air gap) pada tempat masuk saluran dengan memperhatikan peralatan yang penting dan frekuensi pada petir. Selanjutnya pada G.I dimana tersambung hannya saluran bawah tanah saja dan tegangan lebih yang bahaya (termasuk surja hubung) diharapkan tidak dalam bahaya hal arrester ditiadakan.

2.2.6 Perlindungan Terhadap Tegangan Pindah
Tegangan pindah (transfer voltage) adalah sejenis tegangan lebih yang dipindahkan dari lilitan tegangan rendah melalui kapasitasi elektrostatis dan kaitan (coupling) induksi antara kedua lilitan itu. Dan menghasilkan tegangan pindah elektrostastis yang biasanya terjadi pada lilitan transformator yang beda lilitannya cukup besar, dan cara mengatasi tegangan pindah ini dengan memparalelkan arrester dan capasitor,.
Tegangan pindah selanjutnya tegangan elektromagnetis, terjadi pada transformator yang memiliki lilitan hamper sama dan tingkat isolasinya sangat berbeda (misalnya trafo 154 kV Y/ 66 kv ∆) cara untuk mengatasinya dengan memperkuat isolasai antar fasa ke fasa pada lilitan tegangan rendah sesui dengan keperluan
2.2.7 Pelindungan Isolasi TErhadap Titik Netral
Transformator dengan titik netral yang tidak ditanahkan lebih bahaya ketika ada gangguan surja tegangan dari saluran tarnsmisi ke trafo (khususnya terjadi pada tiga fasa sekaligus). Titik netral pada transformator harus dilengkapi dengan arrester (atau sela udara) pada titik netralnya, dengan koordinasinya yang sesuai dengan tingkat isolasinya.

2.2.8 Koordinasi Isolasi untuk tegangan Lebih yang Lain dari Sambungan Petir
Dalam peninjauan koordinasi isoasi, yang ditinjau tidak hannya puncak dari tegangan implus, melainkan seluruh tegangan sebagai fungsi dari waktu, meliputi tegangan implus, surja hubung dan tegangan dengan frekuensi rendah.
Untuk tegangan system kurang dari 275 kV, tingkat isolasi dari peralatan G.I pada umumnya ditentukan oleh tegangan lebih sambaran petir. Surja hubung dan tegangan abnormal frekuwensi rendah (untuk system dari 33 kV) hamper selalu kurang berbahaya dibandingkan dengan sambaran petir. Tetapi bila saluran tarnsmisinya berada dalam tanah yang tidak mungkin disambar petir maka tegangan lebih dan surja hubung lebih diperhitungakan dan dapat mengurangi isolasi pada G.I tersebut.
Pada system teganagn 500 kV bahaya surja hubung menjadi lebih besar lagi dibandingkan penurunan BIL. Khususnya dalam perencanaan isolator dan jarak-jarak isolasi surja hubung kadang-kadang memberikan persyaratan yang lebih tinggi dari pada surja petir. Jadi perlindungan terhadap surja hubung oleh arrester dan usaha penekanan tegangan surja hubung ini menjadi sangat penting.

2.2.9 Koordinasi Isolasi dengan Sela Udara
Sela udara (sela batang = rod gap) dipakai dalam koordinasi isolasi untuk keadaan-keadaan berikut :
a. sela udara digunakan pada G.I yang memiliki frekuensi petir tidak terlalu tinggi di suatu daerah atau banyaknya saluran selalu terhubung kepada ril, sela udara dpat dipakai alat pelindung mengatikan arrester.
b. Sela udara atu sela batang pada dipasang pada alat-alat yang tidak terlalu penting sehingga tidak dipasang arrester, maka sebaiknya dipasang sela batang pada alat itu. Bertujuan untuk membuat kekuatan isolasi antar kutub tetap lebih tinggi.
c. Sela udara digunakan untuk koordinasi antara kekuatan isolasi antar kutub dan isolasi terhadap tanah, dalam hal pegisolasian lebih dari isolator dan bushing.
d. Sela udara sebaiknya tidak dipasang pada bushing dari trafo, karena dapat mengganggu perbaikan karakteristik arrester.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemakaian sela udara :
1. karakteristik percikannya sangat berubah-ubah tergantung pada keadaan udara dan polaritas tegangan implus.
2. sela udara dapat memutuskan arus susulan dank arena itu tidak kembali normal dengan sendirinya.
3. karakteristik tegangan-waktu dari tegangan percikannya berbeda dari arrester dan dari alat yang dilindunggi ; tegangan percikannya naik dengan naiknya kecuraman muka gelombang.
4. percikan pada sela udara dapat menimbulkan tegangan osilasi peralatan yang mungkin dapat menyebabkan tegangan osilasi yang lebih tinggi pada alat lain.

2.2.10 Koordinasi Isolasi dalam Gardu Induk dalam Daerah yang Tercemar
Saluran udara yang terpasang pada daerah tercemar (contaminasi) isolatornya (daerah pantai) kadang-kadang memerlukan pengisolasian yang besar. Dalam hal ini tegangan lompatan balik (back flashover voltage) akan sangat meningkat, sehinga diperkirakan seperti gelombang petir yang menuju G.I. untuk itu isolator pada saluran transmisi dekat G.I harus dipasangdengan panjang sela udara yang sesuai. Dalam hal pengisolasian lebih dari isolator dan bushing dengan maksud vuntuk perlindungan tambahan terhadap pencemaran, koordinasi isolasi dengan sela udara harus dipertimbangkan (2.2.9)
2.2.11 Spesifikasi untuk Arrester

Pusat pembangkit listrik umumnya dihubungkan dengan saluran transmisi udara yang menyalurkan tenaga listrik ke pusat-pusat konsumsi tenaga listrik, yaitu gardu-gardu induk (GI), seperti telah dijelaskan pada artikel sebelumnya di sini dan sini. Sedangkan saluran transmisi udara ini rawan terhadap sambaran petir yang menghasilkan gelombang berjalan (surja tegangan) yang dapat masuk ke pusat pembangkit listrik. Oleh karena itu, dalam pusat listrik harus ada lightning arrester (penangkal petir) yang berfungsi menangkal gelombang berjalan dari petir yang akan masuk ke instalasi pusat pembangkit listrik. Gelombang berjalan juga dapat berasal dari pembukaan dan penutupan pemutus tenaga ataucircuit breaker (switching).
Pada sistem Tegangan Ekstra Tinggi (TET) yang besarnya di atas 350 kV, surja tegangan yang disebabkan oleh switching lebih besar dari pada surja petir. Saluran udara yang keluar dari pusat pembangkit listrik merupakan bagian instalasi pusat pembangkit listrik yang paling rawan sambaran petir dan karenanya harus diberi lightning arrester. Selain itu, lightning arrester harus berada di depan setiap transformator dan harus terletak sedekat mungkin dengan transformator. Hal ini perlu karena pada petir yang merupakan gelombang berjalan menuju ke transformator akan melihat transformator sebagai suatu ujung terbuka (karena transformator mempunyai isolasi terhadap bumi/tanah) sehingga gelombang pantulannya akan saling memperkuat dengan gelombang yang datang. Berarti transformator dapat mengalami tegangan surja dua kali besarnya tegangan gelombang surja yang datang. Untuk mencegah terjadinya hal ini, lightning arrester harus dipasang sedekat mungkin dengan transformator.
Lightning arrester bekerja pada tegangan tertentu di atas tegangan operasi untuk membuang muatan listrik dari surja petir dan berhenti beroperasi pada tegangan tertentu di atas tegangan operasi agar tidak terjadi arus pada tegangan operasi, dan perbandingan dua tegangan ini disebut rasio proteksi arrester.
Tingkat isolasi bahan arrester harus berada di bawah tingkat isolasi bahan transformator agar apabila sampai terjadi flashover, maka flashover diharapkan terjadi pada arrester dan tidak pada transformator.
Transformator merupakan bagian instalasi pusat listrik yang paling mahal dan rawan terhadap sambaran petir, selain itu jika sampai terjadi kerusakan transformator, maka daya dari pusat listrik tidak dapat sepenuhnya disalurkan dan biayanya mahal serta waktu untuk perbaikan relatif lama. Salah satu perkembangan dari lightning arrester adalah penggunaan oksida seng Zn02 sebagai bahan yang menjadi katup atau valve arrester. Dalam menentukan rating arus arrester, sebaiknya dipelajari statistik petir setempat. Misalnya apabila statistik menunjukkan distribusi probabilitas petir yang terbesar adalah petir 15 kilo Ampere (kA), maka rating arrester diambil 15 kilo Ampere. Gambar 1 akan menunjukkan konstruksi sebuah lightning arrester buatan Westinghouse yang menggunaka ncela hudara (airgap) dibagia natas



Gambar 1. Konstruksi sebuah lightning arrester buatan Westinghouse yang menggunakan celah udara (air gap) di bagian atas .

Arrester ini bisa dipasang pada bangunan gedung atau di dekat alat yang perlu dilindungi misalnya pada komputer. Alat yang dilindungi perlu tidak saja dilindungi terhadap sambaran petir secara langsung, tetapi juga terhadap sambaran tidak langsung yang menimbulkan induksi


Gambar 2. Lightning Arrester Tegangan Rendah Untuk Dipasang di Luar Gedung


Gambar 3. Lightning Arrester Tegangan Rendah Untuk Dipasang didalam Gedung


2.3 Kekuatan Isolasi Peralatan dan Ril

2.3.1 Kelas Isolasi dan Kekuatan Isolasi dari Peralatan
Untuk tingkat kekuatan isolasi peralatan tenaga listrik telah ditetapkan kelas isolasi dan tingkat dasar terhadap implus (BIL = Basic Impluse Insulation level) yang harus memenuhi setandar sesui yang tercantum pada tebel berikut :
Tegangan system normal (kV) Kelas Isolasi BIL (kV) Tegangan pengujian Implus (kV) Tegangan Pengujian Frekuensi Rendah (kV)
a b
3,3 3A
(3B) 45 45
(30) 16
(10)
6,6 6A
(6B) 60 60
(45) 22
(16)
11 10A
(10B) 90 90
(75) 28
22 20A
(20B) 150 150
(170) 50
33 30A
(30B) 200 200
(170) 70
66 60400 350 350 420 140
77 70 400 400 480 160
[80] [450] [450] [185]
110 100 550 550 660 230
[120] [650] [650] [780] [275]
154
187* 140 750 750 900 325
220* 170 900 900 1080 395
275* 200 1050 1050 1260 460
Table Kelasifikasi Peralatan dalam Gardu Induk


 Catatan : “A” menunjukan kelas isolasi standar
• Nomor dalam [ ] menunjukan tingkat isolasi sub-standar
• Anaka-angka dalam kolom “a” diterapkan pada peralatan pada umumnya
• Angka-angka kolom “b” dipakai pada peralatan-peralatan khusus, a.1. kapasitor pengait power line carrier
• digunakan untuk isolasi yang dikurangfi pada system yang ditahan.

BIL dibuat dengan memperhatikan harga puncak gelombang petir, kemampuan pengaman dari berbagai alat pelindung serta pengalaman dan peraktek di dunia. Isolasi yang dipilih dalam table pada umumnya yang dipilih sesuai dengan tegangan nominal sistim yang dipilih, tetapi tidak harus selalu sama. Tingkat isplasi yang pertama untuk tingkat isolasi penuh (full0 dan yang terakhir masuk tingkat isolasi yang dikurang. Isolasi penuh dipakai untuk peraltn yang dihubungkan pada system dengan pembumian tidak efektif dan tingkat isolasi yang dikurangi (diturunkan0 untuk system dengan petanan yang efektif. Ini disebabkan karena kenikan tegngan pada fasa yang sehat untuk ganggan 1 fasa ke tanah pada system dengan pengetanahan efektif lebih rendah dibndingkan dengan keadaan pengetanaan tidak efektif. Sebagai perbandingan diberikan IEC tentang tingkat isolasi lihat table berikut :
Tegangan Maksimum untuk perencanaan peralatn um (kV) Tegangan pengujian (kV) Tegangan pengujian frekuensi rendah (kV)
Isolasi Penuh Isolasi dikurangi Isolasi penuh Isolasi dikurangi
100 450 380 185 150
123 550 450 230 185
145 650 550
450 275 230
185
170 750 660
550 325 275
230
245 1050 900
825
750 460 395
350
325
300 1175
1050
900 510
460
395
362 1300
1175
1050 570
510
460
420 1675
1550
1425
1300 740
680
630
570
525 1800
1675
1550
1425 790
740
680
630
Table Isolasi Seperti Direkomendasiakn oleh internasional electrotechnical commission
Tegangan ketahanan implus harus dapat ditahan oleh peralatn ; pengujiannya dilakukan dengan gelombang penuh dengan harga puncak dari gelombang standar (1 X 40 μs) seperti dispessifikan dalam table diatas untuk pengujian di pabrik. Untuk trafo tenaga dan trafo tegangan, disampinggujian implus gelombnag penuh, diuji pula dengan gelombang terpotong dengan harga puncak kira-kira 1,15 kalinya.
Rekomendasi IEC yang menyatakan bahwa untuk UHV tegangan ketanah dasar surja hubung bersama dengan (tindak sendiri) tegangan ketahanaan dasar surja petir menentukan tingkat isolasi. Tegangan ketahaan dasar adalah nilai yang diminta dari :
a. tegangan ketahanan yang konvesional untuk isolasi yang tidak dapat kembali normal (non-self restoring)
b. tegangan ketahanan statistis (kebolehjadian 90%) untuk isolasi yang dapat kembali norma (self restoring)

2.3.2 Kekuatan Isolasi Isolator
Mskipun tegangan ketahanan implus dari isolator umumnya ditentukan oleh bentuknya (terutama panjang efektifnya), tetapi ia jiga sangat dipengaruhi oleh jarak relative ke tanah dan kontribusi dalam dari bushingnya. Mengatasi kecemaran hannya dengan jarak bocor kadang-kadang menyebabkn isolator itu menjadi terlalu panjang dan mahal. Karena itu penentuan kekuatan isolasinya harua dilakuan dengan mempertimbngkan semua factor antara lain keadaan kecemaran ; pentingnya system ; kesukarn pekerjan pencucian isolator ketika pelayanan terhenti dan ekonomi yang berhubungan dengan penggunaan isolator yang tahan kecemaran (contaminasion proof) pencucian dalam keadaan bertegangan (hot line washing) ; pengunaan isolator tahan air (seperti campuran gemuk silikcon) ; instalasi pasangan dalam atau kombinasi dari hal-hal diatas.

2.3.3 Ruang Bebas Ril
Ruang bebas ril (bus spacing) dari G.I harus ditentukan kekuatan isolasinya terhadap tegangan lebih frekuensi rendah, surja hubung dan surja petir selalu tidak lebih rendah dari pada peralatn dalam gardu. Mka tidak mungkin terjadi lompatn sebelum peralatn mengalminya. Untuk memenuhi persyaratan ini perlu diperhatikan beberapa ketentuaan yang akan diperinci lebih lanjut.
Jarak isolasi minimum ke tanah adalah jarak minimum penghantar ke tahan atau ke isolator yang mempunyai potensial yang sama dengan tanah. Jarak minimum antar fasa adalah jarak minimum antara fasa-fasa atau isolator yang mempunyai potensial yang sama denagn fasa-fasa, jarak yang melebihi harga ini harus tetap ada dalam keadaan oprasi yang bagai manapun (keadaan udara apapun) serta ayunan penghantar yang disebabkan oleh angina atau arus hubung singkat dan sebagainya.
Berdasarkan rekomendasi dan pertimbangan jarak isolasi minimum ke tanah diberikan dalam table di bawah ini, bila dimisalakan bahwa 110 % dari panjang sela batang l0 untuk tegangan lompatan 50 % dari gelombang implus standar yang sesuai dengan BIL dianggap sebagai panjang sela batang untuk tegangan lompatan 0 %. Untuk memperhitungkan distribusi kuat medan listrik, keadaan udara dan sebagainya maka harga tersebut diperkalikan dengan factor kopensasi 1,09. dengan mengigat pengfalaman dan peraktek di dunia, maka 120 % dari panjang sela batang l0 X 1,09 dianggap sebagai jarak isolasi minimum seperti ditunjukan dalam table kolom 3.
Kelas isolator BIL Jarak isolasi minimum (cm) Jarak isolasi standar (cm)
Ke tanah Antar fasa Ke tanah Antar fasa
3
6
(10)
10
(20)
20
(30)
30
40
50
60
70
80
100
120
140
170
200 45
60
(75)
90
(125)
150
(170)
200
250
300
350
400
450
550
650
750
900
1050 7
9
12
14
20
25
28
35
45
55
65
76
88
108
130
150
180
210 9
12
15
18
25
32
35
44
56
69
81
95
110
135
160
190
225
265 25
25

30

40

50


85
100

140

190
260
330 50
50

60

75

95


150
170

230

300
400
500
Table ruang bebas riluntuk berbagai kelas isolasi
Meskipun harga puncak dari surja petir yang mengenai fasa berubah tergantung dari factor percabangan, factor kaitan induksi di fasa-fasa lain dan factor antenuasi di saluran, beda potensial 1,5 kali dianggap cukup.gelombnag berjalan yang berbeda peranbatannya dibagi atas 2 komponen : gelombang antar fasa dengan rangkaian kembali melalui saluran lain dan gelombang antara fasa ke tanah dengan rangkaian kembali melalui tanah. Gelombang yang melalui tanah akan mempunyai atenuasi relative lebih besar. Maka dengan memakai panjang sela batang pada tegangan lompat 50% sebagai dasar, jarak isolasi minimum antar fasa 150% kali panjang sela batang sesuai dengan BIL-nya. Hal ini dapat dilihat pada table di atas pada kolom 4
Ruang bebas standar adalah harga –harga standar dalam perencanaan ril dan ditentukan agar jarak isolasi itu selalu lebih besar dari jarak minimum dalam keadaan yang bagaimanapun, dengan memperhitungkan diameter penghantar, ayunan penghantar akibat anggin atau arus hubung singkat dan sebagainya. Untuk tegangan yang kurang dari 11 kV, jarak isolasi minimum itu sangat pendek ,karena itu harus diperhatikan pula gangguan dari burung dan binatang-binatang lain serta jarak keamanan (safety distance) seperlunya. Untuk keadaan dimana arus hubung singkat sangat besar dan untuk penghantar khusus, jarak isolasi itu harus diperhitingkan.

2.3.4 Kekuatan Isolasi Kabel Tenaga
Kekuatan isolasi dari table yang berisi minyak untuk tegangan lebih dari 66 kV, misalnya, dalam standar ditentukan sebagai berikut :
a. pengujian ketahanan tegangan implus harus dilakukan pada 110% dari BIL pada suhu yang sesuai dengan suhu maksimum yang diizinkan dan pada 120% untuk suhu normal.
b. Untuk pengujian ketahanan tegangan frekuensi rendah ada dua macam pengujian : pengujian ketahanan tegangan frekuensi rendah atas kebel di dalam hasperal (selama 10 menit) dan pengujian ketahanan frekuensi rendah untuk waktu yang lama (6 jam) atas sepotong contoh. Harga-harga tegangan penguji ditunjukan pada table berikut :
c.
Tegangan Nominal (kV)
Kelas Isolasi (normal)
Tegangan Pengujian haspen (kV)
Tegangan Pengujian Contoh (kV) 66
60
90
130 77

70

100

150 110

100

140

210 150

140

200

300 220

170

240

360 275

200

280

420
Table pengujian tegangan ketanahan frekuensi rendah untuk kabel tenaga berisi minyak














BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Berdasarkan hasil pembahasan dapat ditarik suatu simpulan bahwaisolasi dalam gardu induk bermacam-macam sesuai dengan fungsi masing-masing. Dimana isolasi pada G.I ini berfungsi untuk mengatasi gangguan yang ditimbulkan oleh alam sekitar. Gangguan itu seperti gelombang sambaran petir, hubung singkat satu fasa.
Dari gangguan-ganguan tersebut yang paling berbahaya untuk G.I adalah ganguan 1 fasa ke tanah. Untuk ganguan ini tidak cukup mengatasinya dengan isolasi pada G.I, tetapi yang lebih baik mengatasi ganguan ini dengan system pertanahan (grounding) karena grounding dapat memangkas kecuraman gelombang pada saat gangguan 1 fasa tersebut. namun tidak hannya grounding saja yang berperan dalam mengatasi ganguan ini tapi harus ada koordinasi antar isolasi seperti koordinasi peralatan-peralatan berikut ; cela udara, isolator, grounding dan arrester.
Tingkat isolasi di daerah yang tercemar dan tidak tercemar berbeda kekuatan isolasinya,. Daerah yang tercemar membutuhkan isolasi yang lebih kuat.
Sebelum pembangunan G.I sebaiknya kita menganalisis daerah yang akan di bangun G.I tersebut apakah berada di daerah dengan rata-rata guruh (petir) tinggi dalam satu tahun apa tidak karena di daerah yang rawan sambaran petir membutuhkan isolasi yang lebih juga.
DAFTAR PUSTAKA

Arismunandar, A dan Kuwahara. ……. Teknik Tenaga Listrik,Jjilid III Gardu Induk. Jakarta : Erlangga, 2004
Dunia Listrik. 2009. lightning arrester. (Online), (http://google, diakses 30 September 2010 )
Elektro Indonesia. 2001. Transformator Daya dan Pengujiannya. (Online), (http://google, diakses 30 September 2010 )

Kamus Komputer dan Teknologi Informasi. 2004 Pengertian Transformator, (Online), (http://google, diakses 30 September 2010)

Kamis, 24 Juni 2010

metode penulisan ilmia

Unit 2- Choosing a Subject
RP Assignment


Topik : Jarak Bahaya Radiasi Saluran Transmisi Tegangan Tinggi terhadap kesehatan.

Saya memilih topik ini karena masyarakat masih banyak yang belum mengetahui berapa radius jarak aman pemukiman penduduk terhadap saluran transmisi baik jarak horizontal maupun vertikal dan apa akibatnya apabila masyarakat melanggar batas jarak tersebut bagi kesehatan yang diakibatkan radiasi medan magnet maupun madan listrik.



Unit 4 – Narrowing the focus
RP Assignment


Subjek Umum : saluran transmisi

Subjek Khusus : medan magnet dan medan listrik yang di timbulkan saluran transmisi

Subjek Khusus : bahaya radiasi medan magnet dan medan listrik yang ditimbulkan saluran transmisi tehadap lingkungan

Subjek Khusus : Jarak Bahaya Radiasi Saluran Transmisi Tegangan Tinggi terhadap kesehatan.

Subjek Khusus : Jarak aman dari Radiasi Saluran Transmisi Tegangan Tinggi terhadap kesehatan.







Topik Khusus : Jarak Bahaya Radiasi Saluran Transmisi Tegangan Tinggi terhadap kesehatan.

Saluran transmisi suatu media untuk menyalurkan energi lisrik dari satu tempat ke tempat yang lain, namun dalam menyalurkan energi listrik tersebut saluran transmisi tersebut menghasilkan medan listerik maupun medan megnetik yang sangat membahayakan manusian dalam radius tertantu bila terjadi radiasi. Dalam hal ini saya akan membahas tentang apa akibat dari radiasi saluran transmisi tersebut dan berapa radius jarak aman saluran transmisi baik jarak horizontal maupun vertikal terhadap pemukiman penduduk.




Unit 5 - Finding Relevant Books and Articles
RP Assignment

1).
Katalog :
LIN Linsley, Trevor
i Intalasi Listrik Tingkat Lanjut / Trevor Linsley : penerjemah bahasa, wiwit kastawan ; editor, wibi hardani, wawan santika. –Ed. 3. Jakarta : Erlangga, 2004
...hlm. 19,5 x 15,5 cm.
Judul Asli : advance electrical instllation work
ISBN : 979-741-440-X
I. Istalasi Listrik II. Linsley, Trevor
I. Judul

Index :
Nama Pengarang : Trevor Linsley
Judul : Intalasi Listrik Tingkat Lanjut
Penerbit : Erlangga, Jakarta
Tahun Terbit : 2004

Bibliograpy (Daftar Pustaka) :
Blh Electronics, strain Gages, SR4, BLH, Waltham, mass (1979)
Driscoll, Frederick F. Analisis Of Elektric Circuit, Prentince_Hall,Inc., Elnglewood Cliffs, N.J (1973)



Unit 6-Preliminary Bibliography
RP Assignment


Style : APA
Budiharto, Widodo dan Sigit Firmansyah. 2005. Elektronika Digital dan Mikroprosesor. Yogyakarta : ANDI.
Call Number : 621.388.8

Ibrahim, KF. 2001. Teknik Digital. Yogyakarta : ANDI.
Call Number : 621.391 6

Jauhari, M. Rifat Emil. 1993. Teknik Elektronika Komputer. Pekalongan : CV Bahagia Batang.
Call Number : 621.39

Rusmadi, Dedy. 2004. Digital dan Rangkaian. Bandung : CV. Pionir Jaya.
Call Number : 621.381 5

Satyadi, Melani. 2003. Elektronika Digital. Yogyakarta : ANDI
Call Number : 621.381 5

Wahana Komputer Tim Peneliti dan Pengembangan. 2002. Pedoman Praktis Perakitan dan Pengelolaan Perangkat Komputer. Jakarta : Salemba Infotek.
Call Number : 621.371

Widjanarka, Wijaya. 2006. Teknik Digital. Jakarta : Erlangga.
Call Number : 620.




Unit 7 - Preliminary Thesis Statement
RP Assignment


Jarak dan ketinggin perumahan pemukiman penduduk sangat mempengaruhi besarnya bahaya radiasi saluran transmisi tehadap kesehatan penduduk.




Unit 8-Preliminary Outline
RP Assignment


Jarak dan ketinggin perumahan pemukiman penduduk sangat mempengaruhi besarnya bahaya radiasi saluran transmisi tehadap kesehatan penduduk.
Outline :
I. Mengenal lebih jauh tentang saluran transmisi
a. Pengertian saluran transmisi
b. Kapasitas teganggan saluran transmisi.
II. Pengaruh saluran transmisi
a. Radiasi saluran transmisi
b. Bahaya radiasi saluran transmisi tehadap pemukiman penduduk
III. Jarak Aman dari Saluran Transmisi.
a. Jarak Horizontal
b. Jarak Vertikal.




Unit 10- Taking Notes
RP Assignment


Akibat Radiasi Saluran Transmisi
.............2009. Gejala Medan Tinggi, (Online), (http://google, diakses 13 November 2009)
Masalah radiasi tegangan tinggi sebenamya sudah sejak lama dipikirkan oleh para ahli semenjak James Clark Maxwell mengumumkan teorinya tentang ”A dynamic theory of the electromagnetic field ”, suatu teori revolusioner tentang pergeseran arus yang diramalkan dapat menimbulkan gelombang elektromagnet yang merambat dengan kecepatan cahaya. Secara teoritis elektron yang membawa arus listrik pada jaringan tegangan tinggi akan bergerak lebih cepat bila perbedaan tegangannya makin tinggi. Elektron yang membawa arus listrik pada jaringan interkoneksi dan juga pada jaringan transmisi, akan menyebabkan timbulnya medan magnet maupun medan listrik. Elektron bebas yang terdapat dalam udara di sekitar jaringan tegangan tinggi, akan terpengaruh oleh adanya medan magnet dan medan listrik, sehingga gerakannya akan makin cepat dan hal ini dapat menyebabkan timbulnya ionisasi di udara. Ionisasi dapat terjadi karena elektron sebagai partikel yang bermuatan negatif dalam gerakannya akan bertumbukan dengan molekul-molekul udara sehingga timbul ionisasi berupa ion-ion dan elektron baru. Proses ini akan berjalan terus selama ada arus pada jaringan tegangan tinggi dan akibatnya ion dan elektron akan menjadi berlipat ganda terlebih lagi bila gradien tegangannya cukup tinggi. Udara yang lembab karena adanya pepohon di bawah jaringan tegangan tinggi akan lebih mempercepat terbentuknya pelipatan ion dan elektron yang disebut dengan avalanche. Akibat berlipatgandanya ion dan elektron ini (peristiwa avalanche) akan menimbulkan korona berupa percikan busur cahaya yang seringkali disertai pula dengan suara mendesis dan bau khusus yang disebut dengan bau ozone. Peristiwa avalanche dan timbulnya korona akibat adanya medan magnet dan medan listrik pada jaringan tegangan tinggi inilah yang sering disamakan dengan radiasi gelombang elektromagnet atau radiasi tegangan tinggi
Pengertian Saluran Transmisi.
Pambudi, Rizky. 2009. SUTET, (Online), (http://google, diakses 13 November 2009)
SUTET adalah singkatan dari Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi dengan kekuatan 500 kV yang ditujukan untuk menyalurkan energi listrik dari pusat-pusat pembangkit yang jaraknya jauh menuju pusat-pusat beban sehingga energi listrik bisa disalurkan dengan efisien. Berbagai macam kekhawatiran muncul akan dampak SUTET terhadap kesehatan bagi penduduk yang tinggal di wilayah yang dilewati jalur SUTET




Unit 11-Revised Thesis Statement
RP Assignmen
t

Tidak ada revisi thesis statement




Unit 12-Revised Outline
RP Assignment


Tidak ada revisi outline



13-Starting the Preliminary Draft
RP Assignment


Istilah radiasi sering dianggap menyeramkan, sesuatu yang membahayakan, mengganggu kesehatan bahkan keselamatan. Padahal di sekitar kita baik di rumah, di kantor, maupun di tempat-tempat umum, ternyata banyak sekali radiasi.
Radiasi pada dasanya adalah suatu cara perambatan energi dari sumber energi ke lingkungannya tanpa membutuhkan medium. Gelombang radio, sinyal televisi, sinar radar, cahaya tak terlihat, sinar-x dan sinar gamma merupakan contoh-contoh gelombang elektromagnetik. . Sumber elektromagnetik ada dimana-mana, matahari, bintang, lampu, dan tornado merupakan sumber alamiah dari gelombang elektromagnetik. Ada juga sumber elektromagnetik buatan seperti ledakan nuklir, rangkaian listrik dengan tube vakum atau transistor, diode microwave, laser antena radio dan banyak lagi.
Tingkat paparan gelombang elektromagnetik dari berbagai frekuensi berubah secara signifikan sejalan dengan perkembangan teknologi yang menimbulkan kekhawatiran bahwa paparan dari gelombang elektromagnetik ini dapat berpengaruh buruk terhadap kesehatan fisik manusia. Ada kemungkinan gangguan tersebut adalah electrical sensitivity. Electrical sensitivity adalah gangguan fisiologis dengan tanda dan gejala neurologis maupun kepekaan, berupa berbagai gejala dan keluhan. Gangguan ini umumnya disebabkan oleh radiasi elektromagnetik yang berasal dari jaringan listrik tegangan tinggi atau ekstra tinggi



Unit 3 - ( Using The Library )
Exercise 1 :

1. Nama pengarang : KF Ibrahim
Judul lengkap : teknik Digital
Tahun terbit : 2001
Penerbit : ANDI, Yogyakarta
2. Nama pengarang : Dedy Rusmadi
Judul lengkap : Digital & Rangkaian
Tahun terbit : 2004
Penerbit : CV. Pionir Jaya
3. Nama pengarang : Widodo Budiharto
Judul lengkap : Elektronika Digital dan Mikroprosesor
Tahun terbit : 2005
Penerbit : ANDI, Yogyakarta

Exercise 2 :
a. Nama pengarang : Russel Banks
b. Judul buku : The Book of Jamaica
c. Tahun terbit : 1996
d. Penerbit : HarperPerennial
e. Call Number : PS3552 A4986 1996

Exercise 3 :
a. Mengabjadkan nama dari mahasiswa di kelas
1. Abidin, Ali Zainal
2. Atika, Ratna
3. Fardana, Angga Reza
4. Fauzan, M. Nirwan
5. Fitria, Syarifa
6. Gamalo, Kemas A. Rahadian
7. Joelian, Albert
8. Karisma, Sandi
9. Kurniawan, Very
10. Maryadi, Linke Ebitya
11. Muharto, Eko
12. Nurhayat, Sabran
13. Pratama, Adi
14. Saputra, Hendra
15. Sari, Heny Purnama
16. Sarli, Derry
17. Sulistrika, Anita
18. Wijaya, Christin

b. Mengabjadkan Nama keluarga dari nama-nama berikut :
Al-Arabi, Ahined
Bander , Robert G.
Barnard, Helen
Crowell, Thomas Lee
d’Angelo, Frank
de los Rios, Jaime
de Proyart, Pierre
el-Osman , Mi
Frank, Marcella
Hall, Alan T.
Hall , Albert Peter
Hall, Edward T.
Matsushita, Yoko
McTaggart, Hamish Angus
O’Hara, P. R.
Ortega, Xavier
Orwell,George
Pollock , Carol Washington
Smith, James R.
Smith, John
Van der Merwe, Hendrik
Von Loring, Heinz
Walker, JoEllen
Wang, Minn-Hu,
Williams, F.
Zelman, P. George

Exercise 4 :
a. B adalah untuk subjek umum Philloshopy and Religion.
b. Baris ke-2 (F2), F adalah huruf pertama dari nama pengarang.
c. Tidak
d. Perpustakaan memiliki 14 kopi buku (c14).

Exercise 5A :
1. Combined dance/movement, art, and music therapies with a developmentally delayed, psychiatric client in a day treatment setting.
2. Remedial and Special
3. Vol 18,terbitan ke-2,halaman 139—148.
4. 83-287 14 (Volume 83, abstract number 287 14)

Exercise 5B :
1. D. Olson
2. Business Week
3. Halaman 22-24
4. The myth of the liberal media
5. Volume 72
6. LIBERAL PARTY (CANADA)
7. Ya, di indikasi dari singkatan ‘il”
8. Volume 60, Oktober 1996
Exercise 6 :
Nama Pengarang : Kahlil Gibran
Judul : Peri Pemikat
Call Number : 128

Exercise 7 :
Exercise 8:
Exercise 9 :
Exercise 10 :

Exercise 11 :
LIBERAL PARTY
Pengarang : A Wilson Smith
Judul : The Liberal`s best hope
Nama Jurnal : Maclean`s
Volume : 109
Halaman : 19
Tanggal terbit : 24 Juni 1996

Exercise 12 :
Exercise 13 :
Exercise 14:













Unit 4 (Narrowing The Focus)
Exercise 1 :
Subjek Umum : Pendidikan
Subjek Khusus : Pentingnya pendidikan yang diterpkan sejak dini kepada anak
Subjek Khusus : Lembaga-lembaga pendidikan di Indonesia
Subjek Khusus : Peran serta orangtua dalam proses pendidikan
Subjek Khusus : Masalah dan solusi yang diharapkan dalam proses pendidikan

Exercise 2 :
1. (b).
2. (a).
3. (b).

Exercise 3 :
1. Broadest (Paling luas) : c. Women’s and mens sport in colleges.
Narrowed (Paling sempit) : a. Discrimination againts women in awarding sports scholarships.
2. Broadest (Paling luas) : b. Religius issues and politics
Narrowed (Paling sempit) : a. Freedom of worship and presidential election campaigns.
3. Broadest (Paling luas) : b. Archieving perfection in human activity.
Narrowed (Paling sempit) : c. Musical rehearsals and perfecting orchestral performances.
Exercise 4 :
Subjek Umum : Lingkungan
Subjek Khusus : Pencemaran lingkungan di kota-kota besar
Subjek Khusus : Penyebab pencemaran lingkungan
Subjek Khusus : Masalah yang dihadapi dalam pencegahan pencemaran lingkungan beserta solusinya
Subjek Khusus : Peran serta masyarakat dalam proses penceghan pencemaran lingkungan.
Unit 6 (Preliminary Bibliography)
Exercise 1 :
Budiharto, Widodo dan Sigit Firmansyah. (2005). Elektronika Digital dan Mikroprosesor. Yogyakarta : ANDI.
Ibrahim, KF. (2001). Teknik Digital. Yogyakarta : ANDI.
Jauhari, M. Rifat Emil. (1993). Teknik Elektronika Komputer. Pekalongan : CV Bahagia Batang.
Oppenheim, Alan V. Dan Alan S.Willsky.(2000).Sinyal dan Sistem.Jakarta: Erlangga.
Pratomo, Gusdiharto. (2004). Turbo Memori.CHIP,2,11
Rusmadi, Dedy. (2004). Digital dan Rangkaian. Bandung : CV. Pionir Jaya.

Exercise 2 :
(a) Ramirez, A.G. ( 1995 ). Creating Contexts for second language
acquisition.White plains, New York : Longman.
(b) Inman, I.M. ( 1934 ). Types of clay used inancient Acapulcan pottery. History
of Applied Archaeology Quarterly, 86, 119 – 123.
(c) Framton, K. ( 1992 ). Modern architecture : A Critical history. New York :
Thames and Hudson.
(d) Pearson, T. ( 1992 ). Evreinov and parendello : Two the atricalists in search
of the chief thinfg. Theatre Survey. 32, 130 – 136.

Exercise 3 :
(a) Stein, H. ( 1991 ). Economics of My time and yours Business Economics,
Business Economics, 30, 19 – 21.
(Tidak ada tanda petik pada Judul artikel)
(b) Shimada, S ( Ed ). ( 1995 ). Coherent light wave comunications
technology. Landon : Chapman and Hall
(Tempat terbit diletakkan sebelum penerbit).
(c) Winston, P.H. ( 1985 ). Artificial intelligence. New York: Wisley.
(Judul buku tidak di cetak miring).
(d) Malik, M. ( 1990 ). Changes in the distribution of ventricular ectropic beats
in long – trm electrocardiograms. Medical and Biological Engeneering
and Computing, 28, 423 – 430.
(Nomor Volume tidak di cetak miring)
(e) Saie, S. ( 1990 ). History of Opera New York: Norton.
(Hanya menggunakan inisial nama depan pengarang)

(f) Hanggard, A. ( 1985 ). A Patient’s best frend. American Journal of Nurshing,
85, 1375 – 1376.
(Tanggal terbit diletakkan sebelum judul buku dan setelah nama pengarang)
(g) Wright, S. ( 1995 ). Language planning and policy – making in Europe.
Language Teaching, 28, 148 – 159.
(tidak ada cetak miring pada judul, kecuali untuk kata pertama dan nama).


















Unit 7-(Preliminary Thesis Statement)

Exercise 1 :

1. ATS 11. RTS
2. NT 12. ATS
3. ATS 13. ATS
4. GT 14. GT
5. NT 15. RTS
6. ATS 16. ATS
7. ATS 17. ATS
8. NT 18. RTS
9. RTS 19. ATS
10. RTS 20. ATS

Exercise 2 :

a. Argumentative
Thesis ini membuat pernyataan tentang masa depan. Bukti/ fakta diperlukan untuk mendukung prediksi.
b. Report
Thesis ini tidak membuat suatu klaim bahwa seseorang tidak setuju. Maka tidak ada apapun untuk membuktikan.
c. Argumentative
Thesis ini membuat pernyataan tentang dua dasar yang tidak berhubungan dengan yang lainnya.
d. Report
Thesis ini membuat suatu klaim yang berlaku umum dengan semua orang, tidak memerlukan bukti.


e. Argumentative
Ada beberapa ketidak-pastian tentang pernyataan. Pengarang menggunakan kata " boleh". Bantahan dan Bukti diperlukan untuk mendukung gagasan.
f. Argumentative
Ada dua jalan mungkin untuk memahami ungkapan " sistem informasi manajemen". Jika itu mempunyai suatu maksud/arti teknis khusus seperti dalam bidang Informasi Ilmu pengetahuan, kemudian klaim yang mungkin perlu untuk dibuktikan setelah definisi hati-hati berhubungan dengan thesis statemen bantahan. Bagaimanapun, jika ungkapan adalah suatu istilah umum, yang awam, kemudian mungkin tak seorangpun akan membantah dengan claim suatu laporan thesis statemen.



Unit 9- (Plagiarism)

1. Bukan Plagiat
2. Plagiat
3. Palgiat
4. Bukan Plagiat
5. Bukan Plagiat
6. Plagiat
7. Bukan Plagiat
8. Bukan Plagiat

UNIT 14 : Completing the Preliminary Draft
Exercise 1
a. Paragraf 3, paragraf 10
b. Kalimat pertama pada setiap paragraf
c. Kalimat pertama
d. ”these different types of funds” mengacu pada informasi awal. " Ada lima hal penting bahwa investor harus mempertimbangkan… mengambil resiko, berharga, batasan waktu, capaian, sejarah, dan sasaran" mengacu pada informasi.
e. “thus” merupakan suatu kesimpulan logis, “on the other hand” merupakan suatu perbandingan.
f. “however” merupakan pembandingan.
g. ”beside the above”- sebagai tambahan terhadap informasi sebelumnya.
h. Paragraf 3 – “five key issues ; Paragraf 9-; “these five issues”
i. Topik harapan :
- Siswa asing adalah pendekatan untuk investasi
- Apa yang perlu diperhatikan oleh para siswa asing



Exercise 3
a. The first seven sentences: “Many people think…analogies that exist between music and mathematics”
b. “Even though most people believe mathematics is only related to science some aspects of mathematical form are akin to musical forms.”
c. The last two sentences. Main issues music and mathematics will be discussed in relation to : sine curve, ranks, mathematical progressions, harmonic series.
d. The first sentence :”In summary, music and mathematics have a kinship based on at least four aspects.”
e. The second sentence summarizes the main points, which are:
- mathematical closure of properties, which can be expressed in ratio form
- a musical tone is similar to a sine curve
- arithmetic progressions in music correspond to geometric progressions in mathematics.
- the musical harmonic series is the same as the mathematical harmonic series
f. “The opinion of most people that music and mathematics are not related…”refers back to the information in the first three sentences of the introduction.

Rabu, 05 Mei 2010

saluran transmisi

>
hal yang mempengaruhi arus listrik
1. Bila tegangan dibuat tinggi maka arus listriknya menjadi kecil.
2. Dengan arus listrik yang kecil maka energi yang hilang pada kawat transmisi (energi disipasi) juga kecil.
3. Juga dengan arus kecil cukup digunakan kawat berpenampang relatif lebih kecil, sehingga lebih ekonomis.

Energi listrik atau daya listrik yang hilang pada kawat transmisi jarak jauh dapat dihitung dengan persamaan energi dan daya listrik sebagai berikut:


w = I2. R . t dan P = I2 . R

dimana :
W = energi listrik (joule)
I = kuat arus listrik (ampere)
R = hambatan (ohm)
t = waktu
P = daya listrik (watt)

Transmisi energi listrik jarak jauh menggunakan tegangan tinggi akan mengurangi kerugian kehilangan energi listrik selama transmisi oleh disipasi.

Jumat, 30 April 2010

BAHAYA RADIASI SUTET

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Istilah radiasi sering dianggap menyeramkan, sesuatu yang membahayakan, mengganggu kesehatan bahkan keselamatan. Padahal di sekitar kita baik di rumah, di kantor, maupun di tempat-tempat umum, ternyata banyak sekali radiasi.
Radiasi pada dasanya adalah suatu cara perambatan energi dari sumber energi ke lingkungannya tanpa membutuhkan medium. Gelombang radio, sinyal televisi, sinar radar, cahaya tak terlihat, sinar-x dan sinar gamma merupakan contoh-contoh gelombang elektromagnetik. . Sumber elektromagnetik ada dimana-mana, matahari, bintang, lampu, dan tornado merupakan sumber alamiah dari gelombang elektromagnetik. Ada juga sumber elektromagnetik buatan seperti ledakan nuklir, rangkaian listrik dengan tube vakum atau transistor, diode microwave, laser antena radio dan banyak lagi.
Tingkat paparan gelombang elektromagnetik dari berbagai frekuensi berubah secara signifikan sejalan dengan perkembangan teknologi yang menimbulkan kekhawatiran bahwa paparan dari gelombang elektromagnetik ini dapat berpengaruh buruk terhadap kesehatan fisik manusia. Ada kemungkinan gangguan tersebut adalah electrical sensitivity. Electrical sensitivity adalah gangguan fisiologis dengan tanda dan gejala neurologis maupun kepekaan, berupa berbagai gejala dan keluhan. Gangguan ini umumnya disebabkan oleh radiasi elektromagnetik yang berasal dari jaringan listrik tegangan tinggi atau ekstra tinggi
Banyak kalangan mengklaim bahwa gelombang elektromagnetik yang dipancarkan oleh Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) yang sanggat berbahaya bagi kesehatan orang-orang yang berada atau bermukim di sekitarnya. Anggapan ini dibenarkan oleh para ahli bidang telekomunikasi, namun tidak sedikit pula bantahan-bantahan oleh beberapa pihak yang menyangkal sebaliknya.


1.2 Permasalahan


Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas, dapat dirumuskan permasalahannya sebagai berikut:
a. Bagaimanakah pengaruh radiasi gelombang elektromagnetik yang ditimbulkan Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) terhadap kesehatan manusia?
b. Berapah jauh jarak aman Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) dengan pamukiman supaya supaya pengaruh radiasi gelombang elektromagnetik tidak membahayakan warga .


1.3 Tujuan

Karya Ilmiah ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana pengaruh radiasi gelombang elektromagnetik yang ditimbulkan Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) terhadap kesehatan manusia serta mengetahui berapa jarak aman radiasi SUTET tersebut terhadap lingkungan penduduk di sekitar sutet tersebut.


1.4 Manfaat

Karya ilmiah ini diharapkan dapat bermanfaat secara teoritis dan peraktis. Secara teoritas, karya ilmiah ini diharapkan dapat membantu pembaca dalam memahami sejauh mana pengaruh radiasi gelombang elektromagnetik yang ditimbulkan Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) terhadap kesehatan manusia dan barapa jarak aman Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) dengan pemukiman penduduk.
Secara praktis, pemaparan dalam karya ilmiah ini diharapkan dapat memberikan kontribusi yang berguna bagi masyarakat mengenai pengaruh radiasi gelombang elektromagnetik yang ditimbulkan Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) terhadap kesehatan manusia dan bagai mana mengatasinya.





BAB II
PEMBAHASAN


SUTET adalah singkatan dari Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi dengan kekuatan 500 kV yang ditujukan untuk menyalurkan energi listrik dari pusat-pusat pembangkit yang jaraknya jauh menuju pusat-pusat beban sehingga energi listrik bisa disalurkan dengan efisien. Dalam menyalurkan energi listrik tersebut radiasi baik radiasi medan magneti maupun radiasi medan listrik yang sanggat membahayakan. Berbagai macam kekhawatiran muncul akan dampak SUTET terhadap kesehatan bagi penduduk yang tinggal di wilayah yang dilewati jalur saluran transmisi tersebut. Sehingga kita harus mengetahui apa akibat yang ditimbulkan oleh saluran transmisi tersebut.
Begitu banyak pendapat yang dikelurkan para ahli tentang bahaya radiasi SUTET terhadap kesehatan manusia, ada yang kontra maupun pro terhadap bahaya radiasi ini terhadap kesehatan manusia. Apakah radiasi SUTET dapat terpengaruh terhadap kesehatan manusia yang ada disekitar saluran SUTET tersebut.


2.1 Radiasi Tegangan Tinggi

Masalah radiasi tegangan tinggi sebenamya sudah sejak lama dipikirkan oleh para ahli semenjak James Clark Maxwell mengumumkan teorinya tentang ”A dynamic theory of the electromagnetic field ”, suatu teori revolusioner tentang pergeseran arus yang diramalkan dapat menimbulkan gelombang elektromagnet yang merambat dengan kecepatan cahaya. Secara teoritis elektron yang membawa arus listrik pada jaringan tegangan tinggi akan bergerak lebih cepat bila perbedaan tegangannya makin tinggi. Elektron yang membawa arus listrik pada jaringan interkoneksi dan juga pada jaringan transmisi, akan menyebabkan timbulnya medan magnet maupun medan listrik. Elektron bebas yang terdapat dalam udara di sekitar jaringan tegangan tinggi, akan terpengaruh oleh adanya medan magnet dan medan listrik, sehingga gerakannya akan makin cepat dan hal ini dapat menyebabkan timbulnya ionisasi di udara. Ionisasi dapat terjadi karena elektron sebagai partikel yang bermuatan negatif dalam gerakannya akan bertumbukan dengan molekul-molekul udara sehingga timbul ionisasi berupa ion-ion dan elektron baru. Proses ini akan berjalan terus selama ada arus pada jaringan tegangan tinggi dan akibatnya ion dan elektron akan menjadi berlipat ganda terlebih lagi bila gradien tegangannya cukup tinggi. Udara yang lembab karena adanya pepohon di bawah jaringan tegangan tinggi akan lebih mempercepat terbentuknya pelipatan ion dan elektron yang disebut dengan avalanche. Akibat berlipatgandanya ion dan elektron ini (peristiwa avalanche) akan menimbulkan korona berupa percikan busur cahaya yang seringkali disertai pula dengan suara mendesis dan bau khusus yang disebut dengan bau ozone. Peristiwa avalanche dan timbulnya korona akibat adanya medan magnet dan medan listrik pada jaringan tegangan tinggi inilah yang sering disamakan dengan radiasi gelombang elektromagnet atau radiasi tegangan tinggi.
Kehawatiran akan pengaruh buruk medan listrik dan medan magnet terhadap kesehatan dipicu oleh publikasi hasil penelitian yang dilakukan oleh Wertheimer dan Leeper pada tahun 1979 di Amerika. Penelitian tersebut menggambarkan adanya hubungan kenaikan risiko kematian akibat kanker pada anak dengan jarak tempat tinggal yang dekat jaringan transmisi listrik tegangan tinggi. Banyak ahli yang meragukan hasil penelitian tersebut dengan menunjuk berbagai kelemahannya, antara lain tidak adanya data hasil pengukuran kuat medan listrik dan medan magnet yang mengenai kelompok anak-anak yang diteliti. Koreksi yang dilakukan oleh peneliti lainnya seperti yang dilakukan oleh Savitz dan kawan-kawan serta temuan studi Fulton dan kawan-kawan, ternyata hubungan tersebut tidak ada. Hasil penelitian dengan metoda yang lebih disempurnakan pernah dilakukan oleh Maria Linett dan kawan-kawan dari National Cancer Institute -Amerika tahun 1997. Penelitian yang melibatkan lebih kurang 1200 anak ini melaporkan bahwa tidak ada hubungan antara kejadian leukemia pada anak yang terpajan medan listrik dan medan magnet dengan anak-anak yang tidak terpajan. Temuan ini mengukuhkan penolakan terhadap hasil penelitian yang dilakukan oleh Wertheimer dan Leeper tersebut.
Para ahli telah sepakat bahwa medan listrik dan medan magnet yang berasal dari jaringan listrik digolongkan sebagai frekuensi ekstrim rendah dengan konsekuensi kemampuan memindahkan energi sangat kecil, sehinga tidak mampu mempengaruhi ikatan kimia pembentuk sel-sel tubuh manusia. Disamping itu sel tubuh manusia mempunyai kuat medan listri sekitar 10 juta volt/meter yang lebih kuat dari medan listrik luar. Medan listrik dan medan magnet dengan frekuensi ekstrim rendah ini juga tidak mungkin menimbulkan efek panas seperti yang dapat terjadi pada efek medan elektromagnetik gelombang mikro, frekuensi radio, dan frekuensi yang lebih tinggi seperti pada telepon seluler. Adanya orang yang tinggal dekat dengan jaringan transmisi listrik melaporkan keluan-keluan seperti sakit kepala, pusing, jantung berdebar kencang, dan susah tidur serta kelemahan sexsual adalah bersifat subjektif, karena minimnya pengetahuan yang mereka miliki dan persepsi yang kurang tepat.


2.2. Bahaya Kuat Medan Magnet yang Ditimbulkan SUTET 500 KV dan Mengatasinya

Kuat medan magnet yang ditimbulkan Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) dengan kekuatan 500 KV inilah yang menimbulkan radiasi yang dikhawatirkan dapat menganggu kesehatan makhluk hidup khususnya manusia. Menurut IRPA dan WHO, batasan panjang kuat medan magnet yang diduga dapat menimbulkan efek biologis untuk umum adalah 0,5 mili tesla.
Dari penelitian yang suda dilakukan ditemukan kuat medan listrik di halaman atau luar rumah lebih tinggi dibandingkan dengan didalam rumah, sehingga dalam rangkah peningkatan kondisi lingkungan , lingkungan disekitar SUTET perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1. Mengusahakan agar rumahnya berlangit-langit.
2. Menanam pohon sebanyak mungkin disekitar rumah pada lahan yang kosong.
3. Bagian atap rumah yang terbuat dari logam sebaiknya ditanahkan (grounding)
4. Penduduk disarankan tidak keluar rumah terutama pada malam hari, karena pada malam hari arus yang mengalir pada kawat penghantar SUTET lebih tinggi dari pada siang hari.
5. Alat-alat yang terbuat dari logam yang berukuran besar (mobil dll) sebaiknya ditanahkan (grounding)
Secara garis besar radiasi medan magnetik total yang dihisap dan didistribusikan dalam tubuh manusia adalah tergantung beberapa hal :
1. Frekuensi dan panjang gelombang medan elektromagnetik
2. Polarisasi medan magnetik.
3. konfigurasai (seperti jarak) antara badan dan sumber radiasi medan magnetik.
4. Keadaan paparan radiasi, seperti adanya benda lain disekitar sumber radiasi.
5. Sifat-sifat elektrik (listrik) tubuh (konstan dielektrik dan konduktivitas). Hal ini sangat tergantung pada kadar air didalam tubuh. Radiasikan lebih banyak diisap pada media dengan konstan dielektrik yang tinggi, seperti otak, otot, dan jarinagan lain dengan kadar air tinggi.
Ketika hal diatas telah dilakukan dan medan magnet tidak melebihi 0,5 mili tesla maka penduduk tidak perlu risau dengan pembuatan tower SUTET 500 KV diingkungan perumahan penduduk, karena medan magnet yang ditimbulkan SUTET radiasinya tidak berbahaya bagi kesehatan manusia.


2.3 Jarak Aman Pemukiman Penduduk dari Radiasi SUTET

Telah dijelaskan di atas bahwa medan magnet tidak melebihi 0,5 mill Tesla maka radiasi medan magnet yang ditimbulkan oleh SUTET tidak berbahaya dan pembangunan SUTET tidak perlu dirisaukan.
Tapi untuk tidak mendapatkan bahaya SUTET maka ada ketentuan-ketentuan didalamnya supaya radiasi tidak dirasakan makhluk hidup. Untuk ketentuan jarak aman SUTET (500 KV) terhadap perumahan, silakan mereferensikan pada atuaran berikut :
1. Lampiran V Keputusan Mentri Energi dan Sumber Daya Mineral No. 1457 K/28/MEM/2000 tangal 3 November 2000 tentang ”Kriteria Tata Ruang Aspek Pertambangan dan Energi”. Disana disebutkan jarak minimum bangunan tidak tahan api dengan saluran SUTET minimal 14 meter (sirkit ganda) dan 15 meter (sirkit tungal).
2. SNI 04-6918-2002 tentang ”Ruang Bebas dan Jarak Bebas Minimum pada SUTET”. SNI mempunyai pendapat yang berbeda dengan kepmen ESDM di atas mengenai jarak runag aman, yang dapat kita lihat dibawah ini :
a. Jarak bebas umum Vertikal dari konduktor dengan bangunan, yaitu 9 meter untuk SUTET.
b. Jarak bebas minimum horizontal dari sumbu menara, yaitu :
• 22 meter untuk SUTET 500 KV sirkit tunggal.
• 17 meter untuk SUTET 500 KV sirkit ganda.




BAB III
PENUTUP

3.1 Simpulan

Berdasarkan hasil pembahasan dapat ditariksuatu simpulan bahwa pengaruh radiasi yang ditimbulkan oleh Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) dengan kekuatan 500 KV tidaklah berbahaya ketika keberadaan SUTET tersebut telah mengikuti setandar yang telah ditentukan seperti diantaranya ; medan magnet pada sekitar SUTET tidak melebihi 0,5 mili Tesla dan perumahan penduduk yang ada disekitar SUTET memenuhi jarak aman horizontal maupun vertikal terhadap SUTET seperti yang telah dijelaskan diatas namum masih banyak menimbulkan perdebatan dan masih diperlukan penelitian lebih lanjut.
.Kita sebagai penduduk jangan lah terlaluh risau dengan pembanggunan SUTET disekitar pemukiman penduduk ketika keberadaan SUTET tersebut telah sesuai setandar yang telah dikeluarkan lembaga tertentu.
Ketika keberadaan SUTET menganggu kesehatan kita jangan terlalu cepat menyimpulkan bahwa keberadaan SUTET lah yang telah mengganggu kesehatan kita, lebih baik kita telitih dulu medan magnet yang ada disekitar SUTET tersebut, sudahkah sesuai setandar kesehatan yang telah ditentukan. Jika telah sesuai setandar kesehatan maka kita lihat kebersihan dari lingkungan kita, mungkin itu penyebab gangguan kesehatan kita.


3.2 Saran

Berdasarkan hasil pemaparan dan kesimpulan di atas, berikut ini disampaikan beberapa saran.
1. Jangan lah kita terlalu cepat molak pembanggunan SUTET disekitar pemukiman penduduk dengan alasan bahaya radiasi SUTET tersebut karena semua itu masih dalam penelitian dan SUTET yang sesuai setandar kesehatan medan magnet disekitar SUTET tidak melebihi 0,5 mili Tesla.
2. ketika ada gangguan tehadap kesehatan jangan lah kita langsung menyalakan kberadaan SUTET, kita telitih terlebih dahulu kederadaan medan magnet SUTET tesebut telah sesuai setandar kesehatan apa belum.




DAFTAR PUSTAKA

Indoskripsi. 2008. Resiko Bahaya Oprator Generator Terhadap Radiasi Elektromagnetik dan Efeknya bagi Kesehatan. (Online), (http://google, diakses 13 November 2009 )

Linsley, Trevor. 2004. Intalasi Listrik Tingkat Lanjut. Jakarta : Erlangga, 2004

Migas Indonesia. 2008. Jarak atau Radius Aman (Perumahan) dari Pengaruh SUTT atau SUTET, (Online), (http://google, diakses 13 November 2009)

Pambudi, Rizki. 2009. SUTET, (Online), (http://google, diakses 13 November 2009)

Rabu, 28 April 2010

radiasi listrik

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Istilah radiasi sering dianggap menyeramkan, sesuatu yang membahayakan, mengganggu kesehatan bahkan keselamatan. Padahal di sekitar kita baik di rumah, di kantor, maupun di tempat-tempat umum, ternyata banyak sekali radiasi.
Radiasi pada dasanya adalah suatu cara perambatan energi dari sumber energi ke lingkungannya tanpa membutuhkan medium. Gelombang radio, sinyal televisi, sinar radar, cahaya tak terlihat, sinar-x dan sinar gamma merupakan contoh-contoh gelombang elektromagnetik. . Sumber elektromagnetik ada dimana-mana, matahari, bintang, lampu, dan tornado merupakan sumber alamiah dari gelombang elektromagnetik. Ada juga sumber elektromagnetik buatan seperti ledakan nuklir, rangkaian listrik dengan tube vakum atau transistor, diode microwave, laser antena radio dan banyak lagi.
Tingkat paparan gelombang elektromagnetik dari berbagai frekuensi berubah secara signifikan sejalan dengan perkembangan teknologi yang menimbulkan kekhawatiran bahwa paparan dari gelombang elektromagnetik ini dapat berpengaruh buruk terhadap kesehatan fisik manusia. Ada kemungkinan gangguan tersebut adalah electrical sensitivity. Electrical sensitivity adalah gangguan fisiologis dengan tanda dan gejala neurologis maupun kepekaan, berupa berbagai gejala dan keluhan. Gangguan ini umumnya disebabkan oleh radiasi elektromagnetik yang berasal dari jaringan listrik tegangan tinggi atau ekstra tinggi
Banyak kalangan mengklaim bahwa gelombang elektromagnetik yang dipancarkan oleh Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) yang sanggat berbahaya bagi kesehatan orang-orang yang berada atau bermukim di sekitarnya. Anggapan ini dibenarkan oleh para ahli bidang telekomunikasi, namun tidak sedikit pula bantahan-bantahan oleh beberapa pihak yang menyangkal sebaliknya.


1.2 Permasalahan


Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas, dapat dirumuskan permasalahannya sebagai berikut:
a. Bagaimanakah pengaruh radiasi gelombang elektromagnetik yang ditimbulkan Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) terhadap kesehatan manusia?
b. Berapah jauh jarak aman Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) dengan pamukiman supaya supaya pengaruh radiasi gelombang elektromagnetik tidak membahayakan warga .


1.3 Tujuan

Karya Ilmiah ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana pengaruh radiasi gelombang elektromagnetik yang ditimbulkan Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) terhadap kesehatan manusia serta mengetahui berapa jarak aman radiasi SUTET tersebut terhadap lingkungan penduduk di sekitar sutet tersebut.


1.4 Manfaat

Karya ilmiah ini diharapkan dapat bermanfaat secara teoritis dan peraktis. Secara teoritas, karya ilmiah ini diharapkan dapat membantu pembaca dalam memahami sejauh mana pengaruh radiasi gelombang elektromagnetik yang ditimbulkan Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) terhadap kesehatan manusia dan barapa jarak aman Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) dengan pemukiman penduduk.
Secara praktis, pemaparan dalam karya ilmiah ini diharapkan dapat memberikan kontribusi yang berguna bagi masyarakat mengenai pengaruh radiasi gelombang elektromagnetik yang ditimbulkan Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) terhadap kesehatan manusia dan bagai mana mengatasinya.





BAB II
PEMBAHASAN


SUTET adalah singkatan dari Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi dengan kekuatan 500 kV yang ditujukan untuk menyalurkan energi listrik dari pusat-pusat pembangkit yang jaraknya jauh menuju pusat-pusat beban sehingga energi listrik bisa disalurkan dengan efisien. Dalam menyalurkan energi listrik tersebut radiasi baik radiasi medan magneti maupun radiasi medan listrik yang sanggat membahayakan. Berbagai macam kekhawatiran muncul akan dampak SUTET terhadap kesehatan bagi penduduk yang tinggal di wilayah yang dilewati jalur saluran transmisi tersebut. Sehingga kita harus mengetahui apa akibat yang ditimbulkan oleh saluran transmisi tersebut.
Begitu banyak pendapat yang dikelurkan para ahli tentang bahaya radiasi SUTET terhadap kesehatan manusia, ada yang kontra maupun pro terhadap bahaya radiasi ini terhadap kesehatan manusia. Apakah radiasi SUTET dapat terpengaruh terhadap kesehatan manusia yang ada disekitar saluran SUTET tersebut.


2.1 Radiasi Tegangan Tinggi

Masalah radiasi tegangan tinggi sebenamya sudah sejak lama dipikirkan oleh para ahli semenjak James Clark Maxwell mengumumkan teorinya tentang ”A dynamic theory of the electromagnetic field ”, suatu teori revolusioner tentang pergeseran arus yang diramalkan dapat menimbulkan gelombang elektromagnet yang merambat dengan kecepatan cahaya. Secara teoritis elektron yang membawa arus listrik pada jaringan tegangan tinggi akan bergerak lebih cepat bila perbedaan tegangannya makin tinggi. Elektron yang membawa arus listrik pada jaringan interkoneksi dan juga pada jaringan transmisi, akan menyebabkan timbulnya medan magnet maupun medan listrik. Elektron bebas yang terdapat dalam udara di sekitar jaringan tegangan tinggi, akan terpengaruh oleh adanya medan magnet dan medan listrik, sehingga gerakannya akan makin cepat dan hal ini dapat menyebabkan timbulnya ionisasi di udara. Ionisasi dapat terjadi karena elektron sebagai partikel yang bermuatan negatif dalam gerakannya akan bertumbukan dengan molekul-molekul udara sehingga timbul ionisasi berupa ion-ion dan elektron baru. Proses ini akan berjalan terus selama ada arus pada jaringan tegangan tinggi dan akibatnya ion dan elektron akan menjadi berlipat ganda terlebih lagi bila gradien tegangannya cukup tinggi. Udara yang lembab karena adanya pepohon di bawah jaringan tegangan tinggi akan lebih mempercepat terbentuknya pelipatan ion dan elektron yang disebut dengan avalanche. Akibat berlipatgandanya ion dan elektron ini (peristiwa avalanche) akan menimbulkan korona berupa percikan busur cahaya yang seringkali disertai pula dengan suara mendesis dan bau khusus yang disebut dengan bau ozone. Peristiwa avalanche dan timbulnya korona akibat adanya medan magnet dan medan listrik pada jaringan tegangan tinggi inilah yang sering disamakan dengan radiasi gelombang elektromagnet atau radiasi tegangan tinggi.
Kehawatiran akan pengaruh buruk medan listrik dan medan magnet terhadap kesehatan dipicu oleh publikasi hasil penelitian yang dilakukan oleh Wertheimer dan Leeper pada tahun 1979 di Amerika. Penelitian tersebut menggambarkan adanya hubungan kenaikan risiko kematian akibat kanker pada anak dengan jarak tempat tinggal yang dekat jaringan transmisi listrik tegangan tinggi. Banyak ahli yang meragukan hasil penelitian tersebut dengan menunjuk berbagai kelemahannya, antara lain tidak adanya data hasil pengukuran kuat medan listrik dan medan magnet yang mengenai kelompok anak-anak yang diteliti. Koreksi yang dilakukan oleh peneliti lainnya seperti yang dilakukan oleh Savitz dan kawan-kawan serta temuan studi Fulton dan kawan-kawan, ternyata hubungan tersebut tidak ada. Hasil penelitian dengan metoda yang lebih disempurnakan pernah dilakukan oleh Maria Linett dan kawan-kawan dari National Cancer Institute -Amerika tahun 1997. Penelitian yang melibatkan lebih kurang 1200 anak ini melaporkan bahwa tidak ada hubungan antara kejadian leukemia pada anak yang terpajan medan listrik dan medan magnet dengan anak-anak yang tidak terpajan. Temuan ini mengukuhkan penolakan terhadap hasil penelitian yang dilakukan oleh Wertheimer dan Leeper tersebut.
Para ahli telah sepakat bahwa medan listrik dan medan magnet yang berasal dari jaringan listrik digolongkan sebagai frekuensi ekstrim rendah dengan konsekuensi kemampuan memindahkan energi sangat kecil, sehinga tidak mampu mempengaruhi ikatan kimia pembentuk sel-sel tubuh manusia. Disamping itu sel tubuh manusia mempunyai kuat medan listri sekitar 10 juta volt/meter yang lebih kuat dari medan listrik luar. Medan listrik dan medan magnet dengan frekuensi ekstrim rendah ini juga tidak mungkin menimbulkan efek panas seperti yang dapat terjadi pada efek medan elektromagnetik gelombang mikro, frekuensi radio, dan frekuensi yang lebih tinggi seperti pada telepon seluler. Adanya orang yang tinggal dekat dengan jaringan transmisi listrik melaporkan keluan-keluan seperti sakit kepala, pusing, jantung berdebar kencang, dan susah tidur serta kelemahan sexsual adalah bersifat subjektif, karena minimnya pengetahuan yang mereka miliki dan persepsi yang kurang tepat.


2.2. Bahaya Kuat Medan Magnet yang Ditimbulkan SUTET 500 KV dan Mengatasinya

Kuat medan magnet yang ditimbulkan Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) dengan kekuatan 500 KV inilah yang menimbulkan radiasi yang dikhawatirkan dapat menganggu kesehatan makhluk hidup khususnya manusia. Menurut IRPA dan WHO, batasan panjang kuat medan magnet yang diduga dapat menimbulkan efek biologis untuk umum adalah 0,5 mili tesla.
Dari penelitian yang suda dilakukan ditemukan kuat medan listrik di halaman atau luar rumah lebih tinggi dibandingkan dengan didalam rumah, sehingga dalam rangkah peningkatan kondisi lingkungan , lingkungan disekitar SUTET perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1. Mengusahakan agar rumahnya berlangit-langit.
2. Menanam pohon sebanyak mungkin disekitar rumah pada lahan yang kosong.
3. Bagian atap rumah yang terbuat dari logam sebaiknya ditanahkan (grounding)
4. Penduduk disarankan tidak keluar rumah terutama pada malam hari, karena pada malam hari arus yang mengalir pada kawat penghantar SUTET lebih tinggi dari pada siang hari.
5. Alat-alat yang terbuat dari logam yang berukuran besar (mobil dll) sebaiknya ditanahkan (grounding)
Secara garis besar radiasi medan magnetik total yang dihisap dan didistribusikan dalam tubuh manusia adalah tergantung beberapa hal :
1. Frekuensi dan panjang gelombang medan elektromagnetik
2. Polarisasi medan magnetik.
3. konfigurasai (seperti jarak) antara badan dan sumber radiasi medan magnetik.
4. Keadaan paparan radiasi, seperti adanya benda lain disekitar sumber radiasi.
5. Sifat-sifat elektrik (listrik) tubuh (konstan dielektrik dan konduktivitas). Hal ini sangat tergantung pada kadar air didalam tubuh. Radiasikan lebih banyak diisap pada media dengan konstan dielektrik yang tinggi, seperti otak, otot, dan jarinagan lain dengan kadar air tinggi.
Ketika hal diatas telah dilakukan dan medan magnet tidak melebihi 0,5 mili tesla maka penduduk tidak perlu risau dengan pembuatan tower SUTET 500 KV diingkungan perumahan penduduk, karena medan magnet yang ditimbulkan SUTET radiasinya tidak berbahaya bagi kesehatan manusia.


2.3 Jarak Aman Pemukiman Penduduk dari Radiasi SUTET

Telah dijelaskan di atas bahwa medan magnet tidak melebihi 0,5 mill Tesla maka radiasi medan magnet yang ditimbulkan oleh SUTET tidak berbahaya dan pembangunan SUTET tidak perlu dirisaukan.
Tapi untuk tidak mendapatkan bahaya SUTET maka ada ketentuan-ketentuan didalamnya supaya radiasi tidak dirasakan makhluk hidup. Untuk ketentuan jarak aman SUTET (500 KV) terhadap perumahan, silakan mereferensikan pada atuaran berikut :
1. Lampiran V Keputusan Mentri Energi dan Sumber Daya Mineral No. 1457 K/28/MEM/2000 tangal 3 November 2000 tentang ”Kriteria Tata Ruang Aspek Pertambangan dan Energi”. Disana disebutkan jarak minimum bangunan tidak tahan api dengan saluran SUTET minimal 14 meter (sirkit ganda) dan 15 meter (sirkit tungal).
2. SNI 04-6918-2002 tentang ”Ruang Bebas dan Jarak Bebas Minimum pada SUTET”. SNI mempunyai pendapat yang berbeda dengan kepmen ESDM di atas mengenai jarak runag aman, yang dapat kita lihat dibawah ini :
a. Jarak bebas umum Vertikal dari konduktor dengan bangunan, yaitu 9 meter untuk SUTET.
b. Jarak bebas minimum horizontal dari sumbu menara, yaitu :
• 22 meter untuk SUTET 500 KV sirkit tunggal.
• 17 meter untuk SUTET 500 KV sirkit ganda.




BAB III
PENUTUP

3.1 Simpulan

Berdasarkan hasil pembahasan dapat ditariksuatu simpulan bahwa pengaruh radiasi yang ditimbulkan oleh Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) dengan kekuatan 500 KV tidaklah berbahaya ketika keberadaan SUTET tersebut telah mengikuti setandar yang telah ditentukan seperti diantaranya ; medan magnet pada sekitar SUTET tidak melebihi 0,5 mili Tesla dan perumahan penduduk yang ada disekitar SUTET memenuhi jarak aman horizontal maupun vertikal terhadap SUTET seperti yang telah dijelaskan diatas namum masih banyak menimbulkan perdebatan dan masih diperlukan penelitian lebih lanjut.
.Kita sebagai penduduk jangan lah terlaluh risau dengan pembanggunan SUTET disekitar pemukiman penduduk ketika keberadaan SUTET tersebut telah sesuai setandar yang telah dikeluarkan lembaga tertentu.
Ketika keberadaan SUTET menganggu kesehatan kita jangan terlalu cepat menyimpulkan bahwa keberadaan SUTET lah yang telah mengganggu kesehatan kita, lebih baik kita telitih dulu medan magnet yang ada disekitar SUTET tersebut, sudahkah sesuai setandar kesehatan yang telah ditentukan. Jika telah sesuai setandar kesehatan maka kita lihat kebersihan dari lingkungan kita, mungkin itu penyebab gangguan kesehatan kita.


3.2 Saran

Berdasarkan hasil pemaparan dan kesimpulan di atas, berikut ini disampaikan beberapa saran.
1. Jangan lah kita terlalu cepat molak pembanggunan SUTET disekitar pemukiman penduduk dengan alasan bahaya radiasi SUTET tersebut karena semua itu masih dalam penelitian dan SUTET yang sesuai setandar kesehatan medan magnet disekitar SUTET tidak melebihi 0,5 mili Tesla.
2. ketika ada gangguan tehadap kesehatan jangan lah kita langsung menyalakan kberadaan SUTET, kita telitih terlebih dahulu kederadaan medan magnet SUTET tesebut telah sesuai setandar kesehatan apa belum.




DAFTAR PUSTAKA

Indoskripsi. 2008. Resiko Bahaya Oprator Generator Terhadap Radiasi Elektromagnetik dan Efeknya bagi Kesehatan. (Online), (http://google, diakses 13 November 2009 )

Linsley, Trevor. 2004. Intalasi Listrik Tingkat Lanjut. Jakarta : Erlangga, 2004

Migas Indonesia. 2008. Jarak atau Radius Aman (Perumahan) dari Pengaruh SUTT atau SUTET, (Online), (http://google, diakses 13 November 2009)

Pambudi, Rizki. 2009. SUTET, (Online), (http://google, diakses 13 November 2009)